Menginspirasi! Bapak Ilham Akbar Habibie dan Prof. Dr. Carina Citra Dewi Joe Bicara di Studium Generale KASI PANDU Awarding & Closing Ceremony 2024

Internasional4 Dilihat

Mitrajustice.com _ Sejak dibuka pada tanggal 10 Maret 2024, KASI PANDU (Kelas Inspirasi Pendidikan Dunia) telah mengundang sejumlah tokoh-tokoh pendidikan yang menginspirasi. KASI PANDU yang merupakan program dari Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) PPI Dunia berkomitmen menyebarkan inspirasi ke seluruh penjuru tanah air terutama bagi para guru dan siswa sekolah dasar menengah.

Sampai pada penutupan program KASI PANDU yang dikemas dalam acara Awarding & Closing Ceremony 2024, telah hadir 2 bintang tamu luar biasa yang telah banyak menginspirasi masyarakat Indonesia dengan pendidikan kelas dunia dan karya-karya hebatnya yaitu Bapak Dr. Ing Ilham Akbar Habibie, MBA yang merupakan putra dari Alm. BJ. Habibie mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga dan Ibu Prof.Dr. Carina Citra Dewi Joe yang merupakan penemu Vaksin AstraZeneca yang dibuat untuk mencegah infeksi COVID-19.

Dalam Studium Generale, KASI PANDU Awarding & Closing Ceremony 2024, Bapak Ilham Akbar Habibie berbicara mengenai Pentingnya IPTEK bagi Generasi Penerus Bangsa. Beliau menyampaikan bahwa salah satu pilar Visi Indonesia 2045 adalah Pembangunan Manusia dan Penguasaan IPTEK. Sesuai data dari WANTIKNAS (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional), indeks pembangunan manusia di Indonesia dari tahun 2010 – 2022 menunjukkan tren yang terus meningkat dengan kategori tinggi dan berada pada posisi 114 secara global dan urutan ke-6 se Asia Pasifik namun masih tertinggal dari negara tetangga Singapore dan Malaysia.

Untuk dapat terus meningkatkan indeks pembangunan manusia, manusia Indonesia perlu memiliki kompetensi literasi digital seperti : Digital Skills, Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Safety. Beliau menyampaikan bahwa kompetensi tersebut merupakan salah satu kelemahan SDM berbasis teknologi di Indonesia. Selain itu masih masifnya penyebaran hoaks, digital leadership yang belum jelas, akses dan harga layanan serta perangkat digital yang affordabilitas nya belum merata, kurangnya SDM digital dan inovasi IPTEK dalam negeri dan program-program terkait transformasi digital yang sudah ada belum dikolaborasikan secara optimal merupakan analisis kelemahan SDM di Indonesia.

Tetapi dibalik semua kelemahan tersebut, Beliau menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekuatan di demografi yang mana 65% adalah digital native dan alokasi APBN khusus untuk TIK. Kesempatan pun terbuka lebar untuk terus meningkatkan digital skill terutama untuk para UMKM dan jumlah pengguna internet yang sangat besar di Indonesia. Dan tentunya, Indonesia harus tetap waspada terhadap ancaman digital divide dan rekrutment tenaga asing dan produk asing akibat kurangnya penguasaan IPTEK dan inovasi. Kedepannya Bapak Ilham Habibie menyampaikan Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia masa depan yang inovatif, kompetitif, dan produktif melalui sistem pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang berfokus pada pembelajaran berbasis proyek.

Di Studium Generale yang di moderatori oleh Bapak Iwa Gandiwa Dhiras, Ibu Prof. Dr. Carina Citra Dewi Joe pun berbicara mengenai pentingnya penguasaan IPTEK untuk mendukung manusia Indonesia dalam berkarya. Seperti halnya Beliau yang merupakan seorang scientist sangat menyambut Artificial Intelligence (AI) dalam bidang penelitian Bio Teknologi. Bagaimana kemampuan AI membantu pekerjaan peneliti di bidang Bio Teknologi untuk memprediksi struktur protein sebanyak 200 juta hanya dalam setahun, sedangkan sebelumnya tanpa bantuan AI, prediksi struktur protein sangat jauh hanya di angka 180 ribu selama 70 tahun. AI sifatnya membantu dan untuk mendapatkan jawaban masuk akal, benar atau tidak, tetap perlu di konfirmasi kembali oleh peneliti di laboratorium.

Selain itu, Prof. Carina Joe pun menyampaikan kepada generasi muda, bahwa tidak masalah jika di awal menempuh pendidikan atau karir belum menemukan passion. Pada saat di awal kita tidak bisa idealis karena masih dalam tahap belajar terhadap rekan yang telah berpengalaman. Passion biasanya akan ditemukan seiring waktu, dimana pada saat kita mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dan mampu mengerjakan sampai akhir. Tidak hanya menempuh pendidikan secara formal, Prof. Carina Joe berpesan agar generasi muda harus banyak menempa diri melalui magang, mengerjakan proyek yang menuntut untuk bekerja sama dengan banyak orang dan terus melatih kompetensi diri.

Sebagaimana pesan-pesan yang disampaikan oleh Bapak Ilham Habibie dan Ibu Carina Joe, mari bersama-sama meningkatkan kompetensi diri khususnya di STEAM untuk memajukan pembangunan sumber daya manusia yang dapat bermanfaat, bernilai, dan berdaya saing baik di nasional maupun internasional dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 45.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *